“Waktu bagai diaroma yang membelenggu. Belenggu relung nadhir kehidupan yang terdalam. Cahaya atau gulita? Bagi mereka yang bersahabat dia akan menjadi pelita. Bagi mereka yang lalai dia akan menjadi boomerang.” Sebagaimana terukir dalam kitab suci : Demi masa! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugan kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Serta saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran.

ITP IPB? Tak pernah terpikir pada awalanya. Namun waktu menuntunku untuk memilihnya. Waktu? Bukan!! Tapi kehidupan menunjukkan jalannya. Itulah kehendak Sang Pembolak-balik hati.
Kawan, inilah senandung hati yang terdalam kenapa memilih ITP. Kan kuceritakan padamu :
Di pagi hari yang cerah. Sinar mentari menelusup ke dalam sebuah ruangan kecil yang nyaman. Di sebuah rumah berpagar hijau. Di ruangan ada 7 orang yang sedang berdiskusi hangat sambil menikmati pisang goreng. “Hm…kalau Bapak, kemanapun kamu melanjutkan yang terpenting itu adalah pilihanmu, kamu memilih dengan hati. Bapak akan selalu mendukungmu”. Pria berusia 50-an itu berbicara ke arahku. Kutatap wajah bijak itu, rambutnya mula memutih. “Beruntung aku memiliki ayah sepertinya”, batinku menyeru. “Kalau menurut teteh, kamu mending mask ITP aja de…prospeknya menjanjikan. Teteh yakin kamu pasti bisa sukses kalau masuk ITP. Hampir di setiap departemen pemerintah pusat ada formasi untuk ITP. Pokoknya ITP tu menjanjikan apalagi perusahaan makan seperti unilever, nutfrifood, danone, banyak yang alumnus ITP”. Wah-wah aku tergoda mendengarnya. Yah memang kakaku, alumnus GMSK IPB ini tipikal persuasive yang handal. “Mendingan ke UGM aja. Kamu kan udah keterima di Teknik Mesin UGM. Prospeknya bagus de…pokoknya bagus.” Kakaku yang kedua alumnus KIMIA UGM, tak mau kalah. Hm…kakaku kedua tipe orang yang kurang baik dalam bahasa persuasivenya. Tapi aku tahu bahwa itu adalah bahasa keikhlasannya. “Mamah mah pengen banget punya anak yang bisa sekolah di ITB. IPB kan udah si teteh, UGM te Ita. Tinggal ITB sama UI. Mamah pengen banget ada yang bisa kuliah di sana anak mamah”. Ujar seorang perempuan yang darinya aku mengenal kata CINTA. Mendengarnya hatiku bergetar! Sementara dua adik laki-lakiku hanya diam sambil menikmati pisang goreng. Kutatap mereka berdua : Bebas! tanpa beban.

——————————————————–o0o——————————————————–

Diskusi pagi tadi benar-benr cukup mengganggu pikiranku. Saat ini aku sudah diterima di IPB dan UGM. IPB lewat PMDK di jurusan ITP sedang UGM di jurusan Teknik mesin lewat jalur UTUL. Aku berusaha memejamkan mata tapi hatiku gundah. Tak mampu mata ini terpejam. Ya… sejak tadi pagi hingga malam hari ini selalu terbayang: IPB? Ataukah UGM? Arrghh…..
Aku bangkit. Keluar dari kamarku. Sudah sepi. Lampu ruang keluarga telah dipadamkan. Pukul 22.00. Aku tak bisa tidur. Kuraih remote dan kunyalakan TV. Terlihat Jackie sedang beraksi. Bertarung dengan gaya khasnya yang unik. Aku menikmatinya.
Lima menit kemudian aku mencari chanel lain karena film Jackie chan tadi sedang iklan. “Banjir yang melanda kecamatan pontang, serang, Banten menyebabkan Gagal panen di daerah serang, banten. warga terpaksa memakan nasi aking untuk bertahan hidup. Namun, belum ada upaya signifikan dari pemerintah daerah untuk menangani masalah ini.” “Kenapa makan nasi aking bu?” “Yah…mau gimna lagi gak ada uang buat beli beras”. Warga pontang, berharap pemerintah segera memberikan solusi untuk permaslahan mereka. Demikian sekilas info.
Huft….aku menghembus nafas dalam-dalam kemudian kumatikan TV. Tersenyum. Namapaknya aku sudah punya jawaban atas kegundahanku.

“Bagi mereka yang memilih untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Semoga kebaikan selalu membelenggu mu!”

Padepokan PPSDMS, 15 Desember 2010
Pukul 7:27 AM

sedikit info buat agan2 tentang pangan :
1. Keajaiban Apel
2. Krisis pangan mengancam RI
3. Kuliner

Search
Archives